LARUTAN PENYANGGA
baiklah anak-anak, hari ini kita akan melakukan pembelajaran berbasis e-Learning, melalui blog, silahkan dibaca dengan baik materi yang telah ibu sajikan di bawah ini :)
Materi
Larutan penyangga adalah suatu sistem larutan yang dapat mempertahankan nilai pH larutan agar tidak terjadi perubahan pH yang berarti oleh karena penambahan asam atau basa maupun pengenceran. Larutan ini disebut juga dengan larutan buffer atau dapar.
Fungsi Larutan Penyangga
Larutan penyangga banyak digunakan dalam analisis kimia,
biokimia dan mikrobiologi. Selain itu, dalam bidang industri, juga banyak
digunakan pada proses seperti fotografi, electroplating (penyepuhan), pembuatan
bir, penyamakan kulit, sintesis zat warna, sintesis obat-obatan, maupun
penanganan limbah.
Di
dalam tubuh makhluk hidup juga terdapat larutan penyangga yang sangat berperan
penting. Dalam keadaan normal, pH darah manusia yaitu 7,4. pH darah tidak boleh
turun di bawah 7,0 ataupun naik di atas 7,8 karena akan berakibat fatal bagi
tubuh. pH darah dipertahankan pada 7,4 oleh larutan penyangga
karbonat-bikarbonat (H2CO3/HCO3−)
dengan menjaga perbandingan konsentrasi [H2CO3] : [HCO3−]
sama dengan 1 : 20. Selain itu, dalam cairan intra sel juga terdapat larutan
penyangga dihidrogenfosfat-monohidrogenfosfat (H2PO4−/HPO42−).
Larutan penyangga H2PO4−/HPO42−
juga terdapat dalam air ludah, yang berfungsi untuk menjaga pH mulut sekitar
6,8 dengan menetralisir asam yang dihasilkan dari fermentasi sisa-sisa makanan
yang dapat merusak gigi.
Komponen Larutan Penyangga
1. Larutan penyangga asam
Larutan buffer asam
mempertahankan pH pada suasana asam (pH < 7). Larutan buffer asam terdiri
dari komponen asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (A−). Larutan
seperti ini dapat diperoleh dengan:
- mencampurkan asam lemah (HA) dengan garam basa konjugasinya (LA, yang dapat terionisasi menghasilkan ion A−)
- mencampurkan suatu asam lemah dalam jumlah berlebih dengan suatu basa kuat sehingga bereaksi menghasilkan garam basa konjugasi dari asam lemah tersebut.
Contoh: larutan penyangga yang
mengandung CH3COOH dan CH3COO−
Dalam larutan tersebut, terdapat
kesetimbangan
kimia:
CH3COOH(aq) ⇌
CH3COO−(aq) + H+(aq)
Pada penambahan asam (H+), kesetimbangan akan
bergeser ke arah kiri, sehingga reaksi mengarah pada pembentukan CH3COOH.
Dengan kata lain, asam yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen basa
konjugasi (CH3COO−).
Pada penambahan basa (OH−), kesetimbangan akan
bergeser ke arah kanan, yakni reaksi pembentukan CH3COO−
dan H+, sebagaimana untuk mempertahankan konsentrasi ion H+
yang menjadi berkurang karena OH− yang ditambahkan bereaksi dengan H+
membentuk H2O. Dengan kata lain, basa yang ditambahkan akan
dinetralisasi oleh komponen asam lemah (CH3COOH).
2. Larutan penyangga basa
Larutan buffer basa
mempertahankan pH pada suasana basa (pH > 7). Larutan buffer basa terdiri
dari komponen basa lemah (B) dan basa konjugasinya (BH+). Larutan
seperti ini dapat diperoleh dengan:
- mencampurkan basa lemah (B) dengan garam asam konjugasinya (BHX, yang dapat terionisasi menghasilkan ion BH+)
- mencampurkan suatu basa lemah dalam jumlah berlebih dengan suatu asam kuat sehingga bereaksi menghasilkan garam asam konjugasi dari basa lemah tersebut.
Contoh: larutan penyangga yang
mengandung NH3 dan NH4+
Dalam larutan tersebut, terdapat
kesetimbangan:
NH3(aq) + H2O(l)
⇌
NH4+(aq) + OH−(aq)
Pada penambahan asam (H+),
kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, yakni reaksi pembentukan NH4+
dan OH−, sebagaimana untuk mempertahankan konsentrasi ion OH−
yang menjadi berkurang karena H+ yang ditambahkan bereaksi dengan OH−
membentuk H2O. Dengan kata lain, asam yang ditambahkan akan
dinetralisasi oleh komponen basa lemah (NH3).
Pada penambahan basa (OH−),
kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri, sehingga reaksi mengarah pada
pembentukan NH3 dan air. Dengan kata lain, basa yang ditambahkan
akan dinetralisasi oleh komponen asam konjugasi (NH4+).
Cara Kerja dan Cara Pembuatan Larutan Penyangga.
Larutan
penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya,
sehingga dapat mengikatbaik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit
asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan.
Campuran asam
lemah dengan garamnya (yang berasal dari asam lemah tersebut dan basa kuat),
adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung
CH3COOH dan CH3COO- yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai
berikut:
1. Pada
penambahan asam
Penambahan
asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan
akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk molekul CH3COOH.
CH3COO-(aq) + H+(aq) →
CH3COOH(aq)
2. Pada
penambahan basa
Jika yang
ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu akan bereaksi dengan
ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan
sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa
menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang
ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion CH3COO- dan
air.
CH3COOH(aq) + OH-(aq) →
CH3COO-(aq) + H2O(l)
Campuran basa lemah dengan
garamnya (yang berasal dari asam kuat dan basa lemah tersebut), adapun cara
kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ yang
mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:
1.
Pada penambahan asam
Jika
ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-. Hal
tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion
OH- dapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya
komponen basa (NH3), bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan
basa NH3 membentuk ion NH4+.
NH3 (aq) + H+(aq) → NH4+ (aq)
2. Pada
penambahan basa
Jika yang
ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga
konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Basa yang ditambahkan itu bereaksi
dengan komponen asam (NH4+), membentuk komponen basa (NH3) dan air.
NH4+ (aq) + OH-(aq) → NH3 (aq) +
H2O(l)
Menghitung pH Larutan Penyangga
1. Larutan
Penyangga Asam
Campuran asam
lemah dengan basa konjugasinya, misalnya CH3COOH dengan CH3COO–. Kita ketahui
bahwa hampir semua ion CH3COO– dalam larutan berasal dari garam sebab CH3COOH
hanya sedikit sekali yang terionisasi .
CH3COOH → CH3COO– + H+
2. Larutan
Penyangga Basa
Sekarang
marilah kita tinjau larutan yang mengandung basa lemah dengan asam
konjugasinya. Misalnya, NH3 dan NH4 + yang berasal dari garam .
NH3 + H2 → NH4+ + OH–
Fungsi dari Larutan Buffer
Dalam organisme
terdapat berbagai macam cairan, seperti sel, darah, dan kelenjar. Cairan ini
berfungsi sebagai pengangkut zat makanan dan pelarut reaksi kimia didalamnya.
Tiap reaksi dipercepat oleh enzim tertentu, dan tiap enzim bekerja efektif pada
pH tertentu (pH optimum). Oleh sebab itu, cairan dalam organisme mengandung
sistem buffer untuk mempertahankan pH-nya. Sistem buffernya berupa asam lemah dengan
basa konjugasinya.
1. Pengontrol
pH Darah
Darah manusia
dalam keadaan normal mempunyai pH = 7,35 – 7,45, yang dipertahankan oleh tiga
sistem buffer, yaitu buffer karbonat, hemoglabin, dan oksihemoglobin, sedangkan
dalam sel terdapat buffer fosfat.
a. Buffer
karbonat, yaitu pasangan asam karbonat (H2CO3) dengan basa konjugasi bikarbonat
(HCO3–): Buffer karbonat yaitu pasangan asam karbonat (H2CO3) dengan basa
konjugasi bikarbonat (HCO3–):
H+(aq) +
HCO3–(aq) ⇄ H2CO3(aq) ⇄ H2O(aq) + CO2(aq)
Penyangga
karbonat sangat berperan penting dalam mengontrol pH darah. Pelari maraton
dapat mengalami kondisi asidosis, yaitu penurunan pH darah yang disebabkan oleh
metabolisme yang tinggi sehingga meningkatkan produksi ion bikarbonat. Kondisi
asidosis ini dapat mengakibatkan penyakit jantung, ginjal, diabetes miletus
(penyakit gula) dan diare.Orang yang mendaki gunung tanpa oksigen tambahan
dapat menderita alkalosis, yaitu peningkatan pH darah. Kadar oksigen yang
sedikit di gunung dapat membuat para pendaki bernafas lebih cepat, sehingga gas
karbondioksida yang dilepas terlalu banyak, padahal CO2 dapat larut dalam air
menghasilkan H2CO3. Hal ini mengakibatkan pH darah akan naik. Kondisi alkalosis
dapat mengakibatkan hiperventilasi (bernafas terlalu berlebihan, kadang-kadang
karena cemas dan histeris).
b. Buffer
Hemoglobin
Oksigen
merupakan zat utama yang diperlukan oleh sel tubuh yang didapatkan melalui
pernapasan. Oksigen diikat oleh hemoglobin di dalam darah, di mana O2 sangat
sensitif terhadap pH. Reaksi kesetimbangan yang terjadi dapat dituliskan
sebagai berikut.
HHb+ + O2 ⇄
H+ + HbO2
Keberadaan
oksigen pada reaksi di atas dapat memengaruhi konsentrasi ion H +, sehingga pH
darah juga dipengaruhi olehnya. Pada reaksi di atas O 2 bersifat basa.
Hemoglobin yang telah melepaskan O 2 dapat mengikat H + dan membentuk asam
hemoglobin. Sehingga ion H + yang dilepaskan pada peruraian H 2 CO 3 merupakan
asam yang diproduksi oleh CO 2 yang terlarut dalam air saat metabolisme. Produk
buangan dari tubuh adalah CO2– yang di dalam tubuh bisa membentuk senyawa H
2CO3 yang nantinya akan terurai menjadi H+ dan HCO3–. Penambahan H+ dalam tubuh
akan mempengaruhi pH, tetapi hemoglobin yang telah melepaskan O2 dapat mengikat
H+ membentuk asam hemoglobin (HHb+).
c. Buffer
fosfat
Penyangga
fosfat merupakan penyangga yang berada di dalam sel. Penyangga ini adalah
campuran dari asam lemah H2PO4– dan basa konjugasinya, yaitu HPO42-. Jika dari
proses metabolisme sel dihasilkan banyak zat yang bersifat asam, maka akan
segera bereaksi dengan ion HPO42-
HPO42-(aq) +
H+(aq) ⇄ H2PO4–(aq)
Jika diberi
OH–, kesetimbangan bergeser kekiri, karena OH– diikat H+ menjadi H2O.
Sebaliknya, jika ditambah OH– kesetimbangan bergeser kekanan sehingga [H+]
relatif tetap.
H2PO4–(aq) +
OH–(aq) ⇄ HPO42-(aq) + H2O(l)
Sehingga
perbandingan [H2PO4– ] / [HPO42-] selalu tetap dan akibatnya pH larutan
tetap.Penyangga ini juga ada di luar sel, tetapi jumlahnya sedikit. Selain itu,
penyangga fosfat juga berperan sebagai penyangga urin. Apabila mekanisme
pengaturan pH dalam tubuh gagal, seperti dapat terjadi selama sakit, sehingga
pH darah turun di bawah 7,0 atau naik ke atas 7,8, dapat menyebabkan kerusakan
permanen pada organ tubuh atau bahkan kematian
2. Obat
tetes mata.
Adapun
kandungan dari OTM atau obat tetes mata adalah Cendoxytrol, digunakan pada mata
merah yang berkaitan dengan alergi. Karakteristik yang penting pada obat tetes
mata yaitu buffer (larutan penyangga) atau pH. Idealnya sediaan optalmik harus
diformulasikan pada pH yang ekuivalen dengan pH cairan air mata yaitu 7,4. Pada
kenyataannya, hal ini jarang digunakan. Mayoritas bahan aktif digunakan dalam
pengobatan mat adalah garam-garam dari basa lemah dan hampir stabil pada pH
asam.Beberapa suspensi biasanya lebih stabil pada pH asam. pH adjustmen umumnya
memerlukan persetujuan formulator. pH yang dipilih harus optimum untuk
stabilitas. Sistem buffer dipilih harus membunya kapasitas memadai untuk
menjaga pH dalam rentang stabilitas selama durasi produk. Namun ada sebagian
obat tetes mata yang mengandung steroid. Steroid adalah salah satu kandungan
berbahaya yang apabila digunakan pada mata. Meski tetes mata yang memiliki
steroid lebih cepat sembuh, tapi steroid sendiri memiliki efek samping yaitu
katarak dan glukoma. Penyakit glukoma merupakan salah satu penyakit mata yang
dapat menyebabkan kebutaan. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang
keluar dari bola mata terhambat, sehingga bola mata akan membesar dan menekan
saraf mata yang berada di belakang bola mata. Alhasil, saraf mata tidak
mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati. Selain itu, obat tetes
mata yang mengandung kortikosteroid ini dapat juga menyebabkan kulit kelopak
mata menjadi atropi, tukak lambung, insomnia, ptosis, kerusakan kornea,
retardasi mental, jerawat, hipertensi, dan pikosis.
3. Menjaga
pH makanan olahan dalam kaleng agar tidak mudah rusak /teroksidasi
4.
Kemampuan asam sitrat untuk mengkelat logam
menjadikannya berguna sebagai bahan sabun dan deterjen.
Sitrat sangat
baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Ion
sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Selain
itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga digunakan
sebagai pengawet dan penghilang kesadahan air. Pada temperatur kamar, asam sitrat
berbentuk serbuk kristal berwarna putih. Serbuk Kristal tersebut dapat berupa
bentuk anhydrous (bebas air), atau bentuk monohidrat yang mengandung satu
molekul air untuk setiap molekul asam sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat
mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari
kristalisasi asam sitrat dalam air dingin. Bentuk monohidrat tersebut dapat
diubah menjadi bentuk anhydrous dengan pemanasan di atas 74 °C.
5.
Larutan Penyangga Pada bidang Farmasi
Asam
asetilsalisilat merupakan komponen utama dari tablet aspirin, merupakan obat
penghilang rasa nyeri. Adanya asam pada aspirin dapat menyebabkan perubahan pH
pada perut. Perubahan pH ini mengakibakan pembentukan hormon, untuk merangsang
penggumpalan darah, terhambat; sehingga pendarahan tidak dapat dihindarkan.
Oleh karena itu, pada aspirin ditambahkan MgO yang dapat mentransfer kelebihan
asam.
Adanya larutan
penyangga ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada
obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut,
terdapat fungsi penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia
seperti pada cairan tubuh. Cairan tubuh ini bisa dalam cairan intrasel maupun
cairan ekstrasel. Dimana sistem penyangga utama dalam cairan intraselnya seperti
H2PO4- dan HPO42- yang dapat bereaksi dengan suatu asam dan basa. Adapun sistem
penyangga tersebut, dapat menjaga pH darah yang hampir konstan yaitu sekitar
7,4. Selain itu penerapan larutan penyangga ini dapat kita temui dalam
kehidupan sehari-hari seperti pada obat tetes mata.
Dalam bidang
farmasi (obat-obatan) banyak zat aktif yang harus berada dalam keadaan pH
stabil. Perubahan pH akan menyebabkan khasiat zat aktif tersebut berkurang atau
hilang sama sekali. Untuk obat suntik atau obat tetes mata, pH obat-obatan
tersebut harus disesuaikan dengan pH cairan tubuh. pH untuk obat tetes mata
harus disesuaikan dengan pH air mata agar tidak menimbulkan iritasi yang
mengakibatkan rasa perih pada mata. Begitu juga obat suntik harus disesuaikan
dengan pH darah agar tidak menimbulkan alkalosis atau asidosis pada darah.
nah anak-anak yang baik, jika terdapat materi
yang belum dimengerti, silahkan kalian tanyakan di kolom komentar di bawah ini.
berikut ibu berikan soal latihan mengenai larutan penyangga, silahkan
diisi dengan baik yaa :) https://goo.gl/forms/3btZIpmqJLSA5htp1


Baiklah ada sedikit yang kurang saya pahami yang ingin saya tanyakan apakah terdapat syarat terjadinya larutan penyangga bu, jika ada apakah itu bu? Tolong jelaskan
BalasHapusBaiklah nadila, pertanyaan yang bagus, akan ibu jelaskan sedikit
Hapuslarutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh suatu reaksi asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun basa lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut dengan reaksi asam basa konjugasi. jadi Syarat terjadinya larutan penyangga adalah zat asam lemah ataupun basa lemah pada saat setelah reaksi itu harus berlebih.
Terimakasih bu atas penjelasannya saya sudah mengerti
HapusBu saya ingin bertanya, pada proses larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+, pada penambahan asam (H+), kestimbangan akan bergeser ke arah kanan, mengapa hal tersebut bisa terjadi bu ?
BalasHapusBaiklah dolla, akan ibu jelaskan
HapusPada penambahan asam (H+), kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, yakni reaksi pembentukan NH4+ dan OH−, sebagaimana untuk mempertahankan konsentrasi ion OH− yang menjadi berkurang karena H+ yang ditambahkan bereaksi dengan OH− membentuk H2O. Dengan kata lain, asam yang ditambahkan akan dinetralisasi oleh komponen basa lemah (NH3).
Apakah dolla sudah mengerti?
sudah mengerti buk, terima kasih atas penjelasannya buk
HapusBu saya belum paham mengenai bagaimana cara memperoleh larutan penyangga basa, tolong jelaskan bu terimakasih
BalasHapusBaiklah biyah, akan ibu jelaskan
HapusLarutan penyangga basa dapat diperoleh dengan cara:mencampurkan basa lemah (B) dengan garam asam konjugasinya (BHX, yang dapat terionisasi menghasilkan ion BH+), dan mencampurkan suatu basa lemah dalam jumlah berlebih dengan suatu asam kuat sehingga bereaksi menghasilkan garam asam konjugasi dari basa lemah tersebut.
Apakah biyah sudah mengerti?
waaaa daebak... terimakasih banyak b penjelasannya 😊
HapusBu saya ingin bertanya, Di dalam tubuh makhluk hidup juga terdapat larutan penyangga yang sangat berperan penting. larutan penyangga seperti apa yang ada di dalam tubuh manusia, mohon penjelasannya bu, terimakasih
BalasHapusBaiklah niken, akan ibu jelaskan,
HapusFungsi Larutan Buffer pada tubuh Manusia :
1. Larutan Buffer dalam darah : Pada orang sehat, pH darah tidak pernah berbeda 0,2 satuan dari pH normal, yaitu 7,5. pH darah tidak boleh turun dibawah 7,0 ataupun naik diatas 7,8 karena akan berakibat fatal bagi tubuh. Untuk mempertahankannya, darah memiliki beberapa larutan penyangga alami yaitu Penyangga Karbonat, Penyangga Hemoglobin, Penyangga Fosfat.
2. Menjaga pH pada plasma darah agar berada pada pH berkisar 7,35 – 7,45: Yaitu dari ion HCO3- dengan ion Na+ . Apabila pH darah lebih dari 7,45 akan mengalami alkalosis, akibatnya terjdi hiperventilasi / bernapas berlebihan. Apabila pH darah kurang dari 7,35 akan mengalami acidosis akibatnya jantung, ginjal, hati dan pencernaan akan terganggu.
3. Menjaga pH cairan tubuh agar ekskresi ion H+ pada ginjal tidak terganggu: Yaitu asam dihidrogenposphat (H2PO4-) dengan basa monohidrogenposphat (HPO42-)
4. Air Ludah sebagai Larutan Penyangga: Larutan Penyangga H2PO4- / HPO42- ternyata juga ditemukan dalam air ludah, yang berfungsi untuk menjaga pH mulut sekitar 6,8 dengan cara menetralisir asam yang dihasilkan dari fermentasi sisa-sisa makanan yang dapat merusak gigi.
Bagaimana niken, apakah sudah mengerti?
Saya sudah cukup mengerti bu, terimakasih atas penjelasannya bu...
HapusBu saya kurang mengerti, mengenai mengapa penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat pada larutan penyangga tidak mengubah pH-nya secara signifikan? Mohon penjelasannya bu?
BalasHapusBaiklah rani, ibu akan menjelaskannya
HapusLarutan penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga dapat mengikatbaik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan.
Bagaimana rani, Apakah sudah mengerti?
Baik ibu terimakasih
Hapus